Monday, June 24, 2013

[Review] Memelukmu di Kyoto - Vanny Chrisma W.


Judul: Memelukmu di Kyoto

Penulis: Vanny Chrisma W.

Penerbit: GACA

Jumlah halaman: 206

Tanggal terbit: Juni 2013

Rating: √™

Kouki Sayuri, seorang tour guide yang menetap di Osaka, Jepang, mendapatkan klien baru, Antony Campbell. Sayuri menjadi tour guide yang baik sampai ia mendengar kabar bahwa ayahnya tengah sekarat. Apa boleh buat, ia harus segera pulang ke kampung halamannya, Kyoto. Tapi bagaimana dengan turisnya ini? Ah, apa mau dikata. Ia harus melimpahkan turis ini kepada temannya. Namun di luar rencana, Antony justru ikut dengannya ke Kyoto.

Di Kyoto sana, akhirnya ayah Sayuri meninggal dunia. Saat Sayuri down, Antony ada di sampingnya dan membuatnya mampu melupakan kesedihan yang mendera.

Namun, belakangan Sayuri tahu bahwa Antony datang ke Jepang untuk mencari seseorang. Kekasih hati Antony yang telah lama menghilang. Karena Sayuri juga pernah menjadi guide bagi kekasih hati Antony itu, maka ia pun membantu Antony.

Di tengah kegundahan yang mendera hatinya, akankah Sayuri mampu membantu Antony?

--o--

Hajimemashite!

Ya, aku mendapat novel ini dari buntelan Juni di grup BBI. Thanks to Kak Dion dan Diva Press karena sudah membantuku mempertebal timbunan :*

Awalnya aku memilih novel ini karena judulnya. Aku sama sekali nggak lihat sampulnya sih sebelum memilih buku ini. Padahal biasanya aku selalu judging a book by its cover (ini kenapa malah curhat?). Membaca kata Kyoto, aku berharap bisa menemukan hal-hal berbau Jepang, baik bahasa, budaya, atau segala tetek bengeknya. Dan, oh, aku memang mendapatkannya. Bahkan sebagai bonus, aku juga menemukan beberapa ungkapan Prancis di sini.

Ide cerita novel ini sebenarnya bagus. Cukup membuat penasaran pada bagian Antony yang tengah mencari kekasihnya. Bagus andai, sekali lagi andai, diolah dengan cara yang tepat.

Apa yang kurang tepat di sini? Si pengarang terlalu buru-buru kurasa. Terutama pada bagian ending. Tolong jelaskan tentang apa yang terjadi di akhir cerita, Vanny. Endingmu ini terlalu ngebut dan… hmm… maksa.
Abaikan. Wenny mah bisanya ngomentarin doang, nggak bisa nulis.

Lagipula ada beberapa bagian yang bikin aku, entahlah, sedikit pengen, eng, bertanya-tanya. Terutama pas bagian pembunuhan orangtua Antony. Buat apa perampok merampok sebuah toko mainan yang cuma dikunjungi tiga orang? Kenapa nggak merampok bank aja? Terus kenapa si perampok ini membunuh orangtua Antony begitu saja, padahal mereka nggak melakukan perlawanan sedikit pun? Lalu, apa si perampok ini berhasil mengambil harta benda dalam bentuk apapun? Kalau nggak, percuma donk udah membunuh tiga kepala tapi nggak dapat apa-apa. Mana akhirnya perampoknya ketangkap lagi, walaupun baru dihukum belasan tahun kemudian. Kasihan.

Oh, itu bukan kealpaan terbesar yang terjadi dalam novel ini. Kealpaan terbesarnya adalah: kekacauan EYD. Terlalu banyak typo (aku menganggapnya typo sih. Semoga hal-hal semacam ini memang typo, bukan karena kealpaan saat pengeditan). Terlalu banyak stuktur kalimat yang rancu. 

Menurutku, ejaan dan tata bahasa adalah satu hal yang amat sangat krusial. Sebagus-bagusnya novel kalau EYDnya acakadut, tetap nggak bisa dinikmati.

Sayang sekali. Namun aku berharap banyak agar di karya berikutnya, Vanny mampu melakukan perbaikan. Begitu juga aku berharap agar editor semakin jeli dalam menelisik gaya bahasa penulis, agar kekacauan ejaan ini tak lagi terjadi di masa mendatang.

Sebenarnya nggak enak mau ngasih satu bintang ke novel gratisan. Maaf ya L

Ps: Iya, saya sok tahu. Di KBBI, yang benar memang Prancis, bukan Perancis. Our life is a lie, right?


6 comments:

  1. Mbak,di naskah asliku sblm jadi novel adalah PERANCIS, bukan Prancis. ga tau tuh editornya, edeeh..

    ya gitu itu mbak kalo semua diburu, diburu cetak juga. aku juga sedih liatnya.

    ReplyDelete
  2. tapi sepertinya yg benar emang Prancis...mengenai ending, haha, lo masak ga bisa ngamati sih, emang ssengaja kubuat begitu. ^_^. tentang penembakan di toko mainan, ya di perancis ada toko mainan yg gede kan, bukan toko mainan kayak indonesia ecek2 lah... masak cuma bank? udah biasa itu bank.

    ReplyDelete
    Replies
    1. duh, reviewku dibaca sama penulisnya langsung :O

      makasih udah mampir ke sini. aku harap bisa membaca karya kakak lagi di lain waktu (dan dapat gratisan lagi wkwkwk) :)

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Eh ada yang ngereview juga, aku kira si penulisnya yang mau ngebahas nih novel di blognya. Cuma mau nambahin ya, ungkapan bahasa Jepang di novel ini ada yang tidak pada tempatnya. Kayak pas antoni ketemu pertama kali sama sayuri, seharusnya untuk orang asing yang berbicara sama orang Jepang harus menggunakan masu-kei (ini ilmu yang saya dapet dari belajar bahasa Jepang enam tahun lebih), dan emangnya ada yang tukang ronda di Jepang??
    saya mau tanya, Jepang bagian mana yang ada tukang rondanya?? coba deh, mbak vanny, selaku penulis lebih teliti lagi dalam menulis tentang Jepang, sudah banyak kan info-info Jepang di internet...
    Saya satu pemikiran lho sama wendy, ngeliat nih novel di gramed, ada kata KYOTO-nya, gimana saya nggak ngiler, pas baca sinopsisnya bagus, tapi pas baca isinya saya kecewa. Jujur kecewa banget sampe saya nggak lanjutin baca, karena ya itu, beberapa penempatan bahasa Jepang yang salah. Dan sepertinya mbak vanny buat karakter orang Jepang yang budayanya orang Indonesia (ini sih menurut saya ya).

    ReplyDelete
    Replies
    1. thanks atas tambahannya. semoga mbak vanny bisa membaca kritik ini demi kemajuan penulisan dalam karya-karyanya yang akan datang.

      btw namaku Wenny ya, bukan wendy. wendy itu personilnya cagur loh (?)

      Delete

Komentarmu, bahagiaku ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...