Thursday, January 12, 2017

[Review] Touché: Alchemist - Windhy Puspitadewi


Judul: Touché: Alchemist
Penulis: Windhy Puspitadewi
Serial: Touche, #2
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN13: 9786020303352
Jumlah halaman: 224
Tanggal terbit: 27 Maret 2014
Tanggal baca: 12 November 2016
Rating: baca dulu sampai bawah.


Hiro Morrison, anak genius keturunan Jepang-Amerika, tak sengaja berkenalan dengan Detektif Samuel Hudson dari Kepolisian New York dan putrinya, Karen, saat terjadi suatu kasus pembunuhan. Hiro yang memiliki kemampuan membaca identitas kimia dari benda apa pun yang disentuhnya akhirnya dikontrak untuk menjadi konsultan bagi Kepolisian New York.

Suatu ketika pengeboman berantai terjadi dan kemampuan Hiro dibutuhkan lebih dari sebelumnya. Pada saat yang sama, muncul seseorang yang tampaknya mengetahui kemampuannya. Kasus pengeboman dan perkenalannya dengan orang itu mengubah semuanya, hingga kehidupan Hiro menjadi tidak sama lagi.

--o--


Ini adalah karya Windhy Puspitadewi kedua yang kubaca, setelah sebelumnya membaca Touché buku pertama.

Tadinya, aku berpikir akan bertemu lagi dengan Riska, Dani, Indra, dan Pak Yunus dalam buku kedua ini. Namun, sepertinya penulis ingin memperkenalkan tokoh lain, yakni Hiro, dengan kemampuannya membaca identitas kimia zat yang disentuhnya. Kisah tentang Hiro memiliki nuansa yang berbeda, dengan teka-teki ala detektif, ditambah lagi kasus yang harus dipecahkan adalah kasus kriminal. Tensi cerita meningkat saat terjadi teror bom di berbagai tempat, dan itu dia konflik utama cerita.

Gaya bahasa penulis dalam novel ini rasanya lebih lugas dibandingkan pendahulunya, Touché. Masih dengan masalah yang sama dengan yang kutemui pada buku pertama, alur yang dipakai sangat-sangat-sangat ngebut kayak orang dikejar pocong yang punggungnya bolong. Halah. Tapi ini serius, aku masih heran kenapa kedua novel dengan ide brilian ini harus dieksekusi dengan alur super kilat ini. Apakah terkendala batasan jumlah halaman atau bagaimana sehingga banyak bagian terpaksa diskip, entah karena alasan lain, aku kurang paham. Yang jelas, menurutku hal ini sangat mengganggu.

Lagi, aku pun merasa sayang, kenapa buku ini masuk ke ranah teenlit. Teenlit, setahuku, membatasi jumlah halaman. Dan teenlit, yang identik dengan cinta-cintaan anak SMA dan sebangsanya itu, menurutku nggak bisa mewadahi ide cerita sebagus ini. Jadi mending pindah lini aja.
Tertanda, mahasiswa galau skripsi yang udah menyatakan secara resmi bahwa dirinya udah nggak sanggup lagi baca teenlit, karena faktor usia.

Soal karakter, pembaca bisa melihat bahwa Hiro, si tokoh utama, sebagai karakter yang genius, namun sombongnya udah mencapai level dewa puncak Himalaya. Biasanya aku mudah tertarik dengan karater sombong ini, namun kali ini berbeda. Aku gemes, mau ninju orang. "Karena aku genius"nya Hiro bikin geregetan setengah mati.

Terkait kekuatan spesialnya, aku rasa masih oke-oke saja ketika Hiro bisa membaca ikatan antah berantah yang dulu kupelajari waktu mata kuliah Kimia Organik yang nilainya mentok di 3,00 itu dari sebuah senyawa yang dipegangnya, tapi bagaimana dengan DNA? Maksudku, DNA terlalu kompleks. Nilai Biokimiaku yang 4,00 tapi aku nggak paham apa-apa pun nggak bisa menjelaskan fenomena ini.
Btw, anak UGM pasti tahu apa itu PalaWar. Aku barusan mengalaminya, barusan menghitung IP semester 7 asli tanpa nilai hasil ngulang, dan barusan banting pulpen karena untuk ketujuh kalinya gagal dapat IP 4 bulat. Jadi harap maklum kalau paragraf ini isinya nilai semua.

Karakter yang menurutku paling apa banget adalah Karen. Maksudku, anak ini mau-maunya ditindas sama Hiro. Maksudku, kalau Karen agak sedikit melawan dan menimbulkan gejolak-gejolak kecil di antara keduanya, mungkin akhir cerita akan terasa lebih berkesan.
Kalimat di bawah ini mengandung spoiler, makanya aku tulis pakai tinta putih:
Bayangin, kalau di awal mereka agak-agak berkonflik karena si Hiro menindas si Karen tapi Karen agak melawan, terus bakal ada kisah cinta dengan sedikit riak-riak emosi dan akan berujung pada kisah benci-jadi-cinta, bukan berupa epilog absurd karena, halo, tadinya nindas, tiba-tiba naksir, flat amat.
Iya, aku emang suka romance. Aku udah mendeklarasikan diri, jadi jangan protes.

Samuel, dan kawan-kawan detektif dan polisinya, kenapa jadi orang-orang bego setelah kedatangan Hiro? Walau Hiro genius dan lain sebagainya, ayolah, apakah harus membodohkan orang lain untuk memperlihatkan kepintaran tokoh utama? Eh, maksudku bukan gitu, tapi... Ah, itu kata paling mudah untuk menyampaikan maksudku, walau sebenarnya maksudku nggak sekasar itu.

Dan karakter antagonisnya, jujur, bagiku agak mengecewakan. Sebagai peran antagonis, dia terlalu lemah. Jantan dikit kek, yang cadas kek, jadi laknat kek. Jadi kayak Voldemort gitu lho sampe hidung jadi pesek juga nggak kalah-kalah.
Walau akhirnya kalah juga sih (ini spoiler Harry Potter 7 gaes, maaf ya).

Tapi, walaupun alurnya buru-buru kayak perubahan jadwal dosen pembimbing skripsi dan karakter-karakter yang agak gimana itu, sejauh ini Touché dan Touché: Alchemist adalah teenlit Gramedia paling brilian yang pernah kubaca. Dari segi ide cerita yang sangat brilian, dan kemungkinan ide ini kembali dikembangkan menjadi novel ketiga-keempat, dan seterusnya. Penulis bisa saja membuat karakter lain dengan kemampuan sentuh-menyentuh yang lain sebagai isi buku selanjutnya, atau mempertemukan keempat tokoh buku pertama dengan Hiro, misalnya, dan memulai petualangan selanjutnya.

Jelas lah, ini teenlit paling brilian. Kan emang harusnya novel ini ada di tingkat di atas teenlit, gimana sih? Coba kalau Touché dikeluarkan dari teenlit dan diijinkan memiliki jumlah halaman lebih, mungkin masalah alur kilat ini bisa dengan mudah diatasi.


Rating: ⭐⭐


Over all, selain masalah alur ngebut dan karakternya yang kurang greget, novel ini amazing. Walaupun kalian sudah merasa agak tua dan sudah memutuskan untuk berhenti membaca teenlit (macam saya ini), nggak ada salahnya buat baca teenlit yang satu ini.



No comments:

Post a Comment

Komentarmu, bahagiaku ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...