Sunday, July 16, 2017

Buku Lama: Mengapa Berwarna Kecokelatan dan Beraroma Khas?



Beberapa hari yang lalu, aku terlibat diskusi pelik (lebay dikit boleh lah ya) di sebuah Line Square tentang bagaimana mencegah buku lama menjadi kecokelatan. Aku memperoleh beberapa jawaban soal mengapa kertas buku lama jadi kecokelatan, namun karena katanya mahasiswa harus evidence-based, maka aku mencari bahan bacaan soal hal ini agar tidak serta merta memperoleh informasi yang simpang siur. Sayangnya, tidak ada artikel berbahasa Indonesia yang membahas soal ini secara detail, jadi biar aku saja yang menuliskannya untuk pertama kali.

Hahaha.

Warning: kamu akan menemukan gambar struktur kimia suatu senyawa, bentuknya mungkin kayak kecebong dengan ekor bercabang atau kepala rusa dengan lima tanduk, semoga tidak memadamkan rasa ingin tahumu.


Kertas, sebagaimana kita ketahui, berasal dari kayu yang dilumat jadi bubur untuk kemudian dicetak dan dipres sedemikian rupa hingga menjadi lembaran-lembaran kertas. Karena itulah, kertas sebagai bahan baku buku juga memiliki sifat -termasuk beberapa senyawa kimia- yang sama dengan kayu. Jadi, sama seperti kayu, buku juga makanan yang sehat dan begizi tinggi bagi rayap; untuk itu, selamatkan bukumu dari rayap ya!

Dari sekian banyak senyawa kimia yang ada di kayu (dan kertas), ada dua senyawa yang akan kita bicarakan kali ini, yaitu selulosa dan lignin.

Selulosa (sumber: wikipedia)
Ps: kelihatannya sederhana ya,
tapi kalo kamu perhatikan ada huruf "n" di pojok kanan bawah yang bisa diganti dengan angka berapapun,
kamu tahu bahwa selulosa tidak sesederhana itu.
Lignin (sumber: google)
Ribet kan? That's why I'm pharmacist, not a chemist.

Selulosa, yang sejatinya adalah bentuk super-duper-kompleks dari gula, adalah komponen utama dari kayu. Ia tidak berwarna sampai putih, sayangnya sifatnya tidak terlalu kokoh. Nah, maka muncullah sebuah senyawa bernama lignin yang berfungsi untuk mengikat selulosa supaya kayu jadi lebih kuat dan kaku. Berbeda dengan selulosa, lignin berwarna kecokelatan.

Pada produksi kertas jaman dulu, tidak dilakukan pemisahan antara selulosa dan lignin sehingga hasil produksi kertas berwarna cokelat dan lebih gelap dari kertas modern. Saat ini, kandungan lignin di kertas sudah lebih sedikit (pada kertas buku pada umumnya). Sedangkan pada kertas HVS yang putih mulus itu, dilakukan proses bleaching yang sejatinya merupakan proses pemisahan antara selulosa dan lignin.

Yang akan kita bahas selanjutnya adalah kertas buku pada umumnya (yang masih agak kecokelatan sedikit, bukan kertas HVS yang putih mulus itu), karena kertas HVS kecil kemungkinannya untuk mengalami perubahan warna dan aroma (kecuali abis ketumpahan kopi).



Jadi, kenapa di kertas buku lama sering muncul bercak-bercak kecokelatan?

Bercak kecokelatan ini muncul karena terjadi proses kimia bernama oksidasi pada lignin. Seperti namanya, oksi-dasi adalah reaksi kimia yang disebabkan oleh oksi-gen.

Ada tiga komponen yang menengarai terjadinya proses terbentuknya bercak cokelat ini: udara, air, dan cahaya.

Udara. Jelas karena udara mengandung oksigen yang menjadi biang keladi dari proses oksidasi. Cara paling ampuh untuk menghindarkan buku dari udara adalah dengan membungkus buku rapat-rapat dengan plastik, lebih bagus lagi kalau dimasukkan silica gel di dalam bungkusan tersebut. Ingat ya, bungkus rapat, bukan cuma disampul plastik.

Air. Sebagaimana besi berkarat (yang juga merupakan salah satu bentuk proses oksidasi), air juga bisa mempercepat proses oksidasi pada kertas. Eits, jangan salah, cara menghindari air bukan cuma dengan menjauhkan es teh dan kuah bakso dari bukumu. Seperti yang pernah kusinggung di sini, hampir semua makhluk hidup bernapas dengan mengembuskan uap air, sehingga udara yang ada di sekitar kita (walau tak kasat mata) juga mengandung air. Jadi cara melindungi buku dari air... balik lagi: hindarkan buku dari udara. Bungkus rapat dengan plastik. Dan pastikan kamu menyimpan bukumu di tempat bersirkulasi udara baik, tidak lembap, tidak disimpan dalam kardus.

Cahaya. Hindarkan bukumu dari cahaya, terutama cahaya matahari, karena bisa mempercepat proses oksidasi. Selalu taruh bukumu di tempat teduh. Eh, tapi adakalanya beberapa orang menjemur buku sebentar untuk menghindari buku dari kelembapan. Hal ini bisa dilakukan, tapi cukup sebentar saja.



Lalu, kenapa pada buku lama, muncul aroma khas (yang enak gitu buat diendus-endus)?

Pada buku baru, terdapat aroma khas yang merupakan akumulasi dari aroma kertas, tinta, lem, dan berbagai komponen lain. Sedangkan untuk aroma khas buku lama, penjelasannya akan menjadi sedikit lebih panjang.

Di dunia kimia, ada istilah volatil, yaitu zat yang mudah menguap. Misalnya, jika kamu mengoleskan alkohol di tangan, tidak butuh waktu lama sampai alkohol itu kering dan aroma alkohol yang menyengat itu tercium. Maka alkohol disebut sebagai zat volatil.

Pada buku lama, akan terjadi pembongkaran pada beberapa senyawa penyusunnya. Kita balik lagi ke si duo maut, selulosa dan lignin. Seiring bertambah uzurnya sebuah buku, selulosa dan lignin (utamanya lignin) akan dibongkar oleh semesta menjadi berbagai senyawa, beberapa di antaranya adalah senyawa volatil.

Kalau kamu lihat struktur lignin di atas (yang udah kayak koloni kecebong) kamu bakal menemukan banyak bentuk segienam dengan bulatan di tengah. Orang kimia menyebutnya benzene atau senyawa aromatik. Seperti namanya, aromatik, senyawa ini jika sudah dipisah-pisah dari senyawa kompleks, akan menjadi aromatik. Alias wangi. Senyawa-senyawa aromatik inilah yang menyebabkan aroma khas pada buku lamamu.

Ada banyak senyawa yang menyebabkan aroma khas ini, namun para ahli kimia berfokus pada beberapa senyawa. Untuk penjelasan lebih lengkapnya, bisa dilihat pada infografik di bawah (sumber tertulis).

Untuk melihat versi lebih besar, klik di sini.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------




Jadi begitulah penjelasan tentang mengapa pada buku lama muncul bercak kecokelatan dan aroma yang khas. Masih ada pertanyaan? Kamu bisa baca referensi lain atau bertanya padaku jika aku bisa menjawab. Atau ada yang ingin kamu tambahkan, kindly meet the comment button 😙



14 comments:

  1. Berharga banget infox. Makasih mbak

    ReplyDelete
  2. ebuset. ilmiah banget penjabarannya. tapi menarik juga karena sedikit banyak rindu akan kimia terbayarkan dengan pos ini. keep up!

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg ilmiah lbh bisa dipertanggungjawabkan kak :D
      thanks!

      Delete
  3. Aku juga menduga seperti ini. Karena kertas HVS jarang mengalami perubahan warna dan aroma, jadinya buku yg menggunakan kertas HVS, meskipun tipis, akan lebih mahal daripada buku yang lebih tebal tapi kertasnya agak kecoklatan

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena ada proses bleaching kak, jd lbh mahal.

      Delete
  4. Informatif banget tulisannya. Selama ini aku nggak pernah mikirin tentang asal muasal bau buku. Aku cuma tahu kalau buku lama dan buku baru beda baunya. Dan bau dua-duanya cukup enak buat dicium-cium. hehehe...

    ReplyDelete
  5. Aku adalah pengendus buku, baik baru maupun lama sukaaaa banget kuendus2. Sukak bangeeett... Cuma ga tau ternyata proses di balik bebauan itu apa :D

    ReplyDelete
  6. enak banget memang aromanya :)

    ReplyDelete
  7. Maafkan saya terlalu men-skip bagian rantai karbonnya @.@ tapi jadi tahu adanya proses dibalik perubahan warna dan aroma dari buku :)

    ReplyDelete
  8. Saya lebih suka beli buku yg berpotensi menyoklat nantinya, hehe.. Wangii! Btw, pernah nonton tv, ada orang yg suka nyamilin buku2 tua saking wanginya. Gatau deh rasanya gimana, hihi

    ReplyDelete
  9. Ternyata,,, seru juga fakta di balik buku lama yak. Selama ini cuma tau kalo buku lama warnanya kuning aja. Hehehe.
    Btw, penjelasan ini juga menjelaskan tentang kertas-kertas buku lama itu lama-lama jadi rapuh ya?

    ReplyDelete

Komentarmu, bahagiaku ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...